Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Terserah

Terserah Terserah apa kau kata Selama penaku terisi tinta Dan hati masih bicara Tanganku takkan lelah Menulis kata demi kata Ini bukan puisi Hanya lautan emosi Jika tak suka, tak usah banyak kata Lagipula, siapa paksa kau baca? Ini caraku, Tuk bagi bahagiaku Tuk lepas bebanku Tuk luapkan marahku Istirahat dari penatku Daripada kau, Sibuk mengganggu!

Nomor Lima

Nomor Lima Ini hari, ulangan matematika Bertemu dengan statistika Modus, median, dan rata-rata Histogram dan ogive kembali ada Simpangan baku simpangan rata-rata Yang belum kupahami sepenuhnya Tapi, ini hari, tak seperti biasanya Ketika saya hanya duduk saja Perhatikan papan tulis di muka Ini hari saya harus putar logika Bercengkerama dengan angka Berjuang dapat nilai sempurna Tuk banggakan orangtua tercinta Tapi, Ternyata saya lupa Belum kerjakan nomor lima Tuhan, Kini hamba hanya bisa berdoa Untuk nilai yang akan hamba terima

Kenangan

Kenangan Di ujung sunyi ini Berbalut hening sepi Terpaku diam diri Tembus dinding waktu  Melesat ke waktu dulu  Iringi simponi sendu Lewati lorong histori Jemput segala memori Yang telah lama terpatri Buat kalbu luluh Ragapun melumpuh Kenangan kembali datang Walau telah kucoba buang Semakin kukubur  Semakin hatiku lebur Hanya pasrah terima Saat kenangan menyapa Bersama duka lara Yang lekat padanya

Uban

Uban Kusisir rambut ke depan Kudapati sebuah kejutan Yang tak pernah kunantikan Usiaku masih belasan Tapi inilah takdir Tuhan Kini aku punya uban "Jangan dicabut!",kata teman Alasannya, nikmat Tuhan Terimakasih kuucapkan Pada-Mu Pencipta uban Semoga ini tanda kedewasaan Bukan tanda penuaan

Mendungku

Mendungku Penyair kata kaulah sang surya  Sumber kehidupan Terangi gelapnya jalan Lentera di masa depan Pujangga bilang kaulah rembulan Pudarkan gelap Hiasi dengan gemerlap Temani hati yang senyap Tapi bagiku Kau adalah mendung Mendung kelabu pekat  Yang kelam lagi kusam Tunggu... Aku memang suka mendung Mendung teduhkan raga Mendung tentramkan jiwa Mendung berkorban Membawa beban air hujan Terhembus angin jelajah angkasa Mencari hati layu nan lara Perlahan hujan itu ia teteskan Hingga hati itu ia sejukkan Ibu Kaulah mendungku Sumber sejuk hatiku Ibu Kaulah mendungku Mendung cintaku

Salam dari Rohingya

Salam dari Rohingya Negara tetangga Negara saudara Kami lari dari Burma Lari dari neraka Tak ada bahagia di sana Walau tipis senyum saja Kami ingin mencari tempat Tempat yang bisa menerima Negara tetangga  Negara saudara Kami tak butuh harta Kami butuh diterima Kami butuh dibela Kami butuh kalian semua Tapi Tak apa jika kalian menolak Mengusir jauh raga kita Karena Tak perlu tunggu lama Kami kan datang menyapa Dengan raga tak bernyawa Terombang-ambing tengah samudera Negara tetangga  Negara saudara  Masihkah kalian tak mau terima Masihkah kalian menutup telinga Nasib kami jelas di depan mata

Maafkan Kami

Gambar
Maafkan Kami Rohingya... Maafkan kami Para pribumi Kami tak peduli Asyik dengan diri sendiri Tak ingin mengetahui Menutup mata, telinga, mulut, hingga hati Bicara dalam hati "Ngapain mikirin Rohingya, masalah saja penuh di negeri sendiri" Kami lupa kau saudara kami Kami lupa kewajiban kami Rohingya... Maafkan kami